Jenderal Hario Dan Subandrio

Dibawa pergi oleh Subandrio tanpa pemberitahuan, waktu Jenderal Suhario terbuang percuma. Tidak marah, Suhario lebih dulu "menundukkan" Subandrio.

Mayjen TNI Suhario "Kecik" Padmodiwirio di Moskow, Uni Soviet, 1965.

Suatu sore di RTM Budi Utomo, Jakarta tahun 1981. Mayjen (Purn.) Soehario Padmodiwirio atau yang akrab disapa Hario “Kecik”, mantan Pangdam IX/Mulawarman, kedatangan mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara Omar Dani di tahanannya fasilitas. Dani datang untuk melihat apakah Subandrio, mantan wakil perdana menteri I, baru saja mengunjunginya.

“Ya, dia membawa berita yang sudah saya ketahui. Saya hanya mendengarkan, bersikap seolah-olah saya belum tahu,” kata Hario sambil tertawa, yang ditulisnya dalam Memoir II Hario Kecik.

Subandrio datang untuk memberitahukan rencana pembebasan Hario dan dua jenderal lainnya yang ditahan di tempat yang sama oleh rezim Orde Baru.

Mendengar penjelasan Hario, Dani merasa lega. Dani tahu betul karakter Subandrio, teman sekamar di penjara, suka menguping dan sering ribut dengan pernyataannya. Dani khawatir kabar pembebasan Hario disalahgunakan oleh Subandrio.

Bukan rahasia lagi, mantan Kepala Badan Intelijen Pusat (BPI) Subandrio kerap melontarkan pernyataan yang menimbulkan kegaduhan politik. Pernyataannya juga sering merugikan orang lain. Mantan Menteri Penerangan Sudibyo menjadi saksi bagaimana pernyataan Subandrio merugikan Chairul Saleh, mantan Wakil Perdana Menteri III yang saat itu menjadi Ketua Berkala Front Nasional.

“Yang sangat saya sesalkan adalah sikap Subandrio yang menuduh Chairul Saleh sebagai anggota dinasti ekonomi. Serangan Subandrio hebat, diikuti oleh kekuatan Kom, yang kira-kira sama. Terlihat Chairul Saleh selalu dipojokkan oleh Subandrio,” kata Sudibyo dalam kesaksiannya, yang termasuk dalam tokoh kontroversial Chairul Saleh.

Itu sebabnya Dani datang ke Hario. "Ketika berita tentang pembebasan tiga jenderal, Pranoto, Rukman, dan selirane Anda (Anda, red.), diinformasikan oleh Overste (Tomo), Pak Ban juga menguping," kata Dani, dikutip Hario.

Hario dan Dani tertawa bersama. Kedua mantan perwira tinggi itu sama-sama mengenal karakter Subandrio sejak lama. Apalagi Hario, dia sudah lama mengenal Subandrio. Dia adalah teman Hurustiati, istri Subandrio, saat belajar kedokteran.

Hario tahu betul bagaimana menghadapi Subandrio. Hario pernah menjadikan Subandrio "subjek". Kisahnya terjadi pada awal tahun 1960-an ketika Hario masih menjabat sebagai Pangdam Mulawarman dan Subandrio sebagai menteri luar negeri.

Karena ada urusan, Hario datang ke Jakarta. Saat itulah suatu pagi Subandrio memanggilnya ke rumahnya. "Bu, sekarang kamu pergi dari sini, ke rumah saya. Jangan tanya untuk apa. Saya tunggu sekarang," kata Subandrio.

Subandrio rupanya membawa Hario ke peristirahatan milik Brimob di Megamendung. Namun, bagi Hario, perjalanan panjang itu tampaknya hanya buang-buang waktu. Subandrio rupanya hanya ingin memamerkan konsep pidato yang dibuatnya untuk pidato Presiden Sukarno 17 Agustus lalu. Hario bingung apa tujuan Soebandrio mengundangnya ke Megamendung.

"Nanti setelah saya ikuti pidato Bung Karno di radio, ternyata isinya berbeda, tidak seperti yang saya baca di Megamendung," kata Hario.

Meski terlihat dibully, Hario tak kecewa karena sempat “menjinakkan” Subandrio saat mobil yang mereka tumpangi menuju Megamendung baru saja melintasi Cisalak. Di sanalah Hario meminta Subandrio untuk memerintahkan pengemudi menghentikan mobil karena tidak tahan ingin buang air kecil. Permintaan itu membuat Subandrio kesal.

“Gimana kabarnya, saya menteri lho. Mosok kamu suruh berhenti. Ajari kamu. Mau nyanyi dimana? Tahan kamu, Bu. Ini bukan hutan kamu, Kalimantan!” kata Subandrio.

Alih-alih menanggapi kemarahan Subandrio, Hario tidak peduli dan terus meminta mobil dihentikan. Karena mobil masih melaju, Hario akhirnya mengeluarkan ancaman sambil menyuruh pengemudi menghentikan mobil. “Berhenti…berhenti, aku tidak bisa menahannya lagi. Atau saya mengacau di sini di dalam mobil," kata Hario.

Ancaman Hario membuat Subandrio memerintahkan sopir untuk segera menghentikan mobilnya. Setelah Hario kembali dari menyelesaikan keinginannya, Subandrio kembali marah.

“Tapi saya sendiri puas. Ini adalah momen bersejarah yang spektakuler,” kata Hario.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama