Revolusi dari Jamban ke Jamban

Jamban adalah tempat sosial bagi orang-orang kuno. Jamban modern yang memberikan privasi dan dapat disiram merupakan inovasi terbaru.

Orang-orang mengantri jamban di atas laut di penangkaran hiu Karimun Jawa,

Kotoran manusia mulai menjadi masalah sejak mereka mulai hidup menetap,
Mereka buang air besar di sekitar tempat tinggal mereka. Ketika kepadatan penduduk terus meningkat, tinja pun semakin menumpuk dan menjadi sumber penyakit.

Manusia mencari solusi untuk membuang kotoran. Cikal bakal jamban atau toilet modern baru ditemukan pada masa Ratu Elizabeth I di tengah periode Revolusi Industri. Jamban yang dirakit oleh anak baptis penguasa Inggris Raya itu sudah dilengkapi dengan teknologi penyiram.

Seperti kebanyakan teknologi kuno, toilet telah ditemukan di beberapa budaya dan melalui tahapan inovasi sebelum menjadi toilet yang kini dikenal.

Bicara soal toilet tertua tentu tergantung pada bagaimana toilet didefinisikan. Kata itu bisa berarti lubang di mana kotoran dibuang menuju selokan, bisa juga pot di kamar yang dikosongkan secara berkala, atau hanya berupa lubang yang dijadikan tempat buang air besar.

Sementara itu tumpukan kotoran kuno mungkin tidak cukup untuk disebut sebagai toilet. Misalnya, fosil feses Neanderthal dari sekitar 50.000 tahun yang lalu. “Kita bisa menganggapnya sebagai toilet, tapi itu bukan tempat khusus mereka untuk buang air,” jelas Jennifer Bates, arkeolog Universitas Pennsylvania, sebagaimana dikutip Discover Magazine.

Jejak toilet kuno mungkin tidak bertahan selama berabad-abad-abad. Itu pada bahan dan iklim di mana jamban itu berada. Para arkeolog juga tidak selalu tertarik untuk menggalinya.

Kursi Jamban

Sekira 4.500 tahun yang lalu, orang-orang di Mesopotamia telah membangun kursi di atas lubang pembuangan. Di kota-kota kuno, seperti Eshnunna dan Nuzi, para arkeolog telah menemukan kursi dari bata yang dilapisi dengan aspal anti air. Tinja akan jatuh melalui celah terbuka di pangkalnya dan mengalir melalui pipa tanah liat ke pembuangan.

Meski begitu, orang Mesopotamia tidak antusias dengan teknologi revolusioner ini. keberadaan jamban jarang ditemukan di kawasan itu. “Jumlah rumah yang memiliki toilet sangat, sangat sedikit, satu dari lima atau dua dari lima,” kata Augusta McMahon, arkeolog University of Cambridge, Inggris, dikutip Nature.

Orang-orang waktu itu mungkin lebih memilih menggunakan pispot. Jika tidak, mereka mungkin hanya akan berjongkok di ladang.

Jamban Elite dengan Penyiram

Sekira 1.000 tahun kemudian, orang Minoa di Pulau Kreta, Mediterania, memperbaiki sistem kamar kecil dengan menambahkan kapasitas penyiraman. Fasilitas ini biasanya hanya dimiliki kaum elit.

Salah satu toilet siram paling awal ditemukan di Istana Knossos dari peradaban Minoa di Kreta. Berdasarkan rekonstruksi, jamban itu terdiri dari kursi kayu yang terpasang di atas saluran penyiram. Saluran ini berupa saluran yang mengalirkan udara dari sumber udara di atap ke saluran pembuangan bawah tanah. Jamban Minoan lainnya, yang dipelajari oleh para arkeolog, kemungkinan besar disuplai dengan air dari kendi.

Toilet siram serupa dikembangkan pada waktu yang sama di kawasan yang jauh dari Pulau Kreta, yakni Peradaban Lembah Indus. Namun, tak semua orang dalam masyarakat ini memiliki jamban yang terhubung ke saluran pembuangan umum.

“Ketersediaan jamban tergantung pada kekayaan individu. Menemukan rumah dengan toilet menunjukkan siapa dia di Indus,” jelas Bates.

Jamban Umum

Dari sana, teknologi toilet berkembang pesat. Pada milenium pertama SM, orang Yunani kuno dari periode Klasik dan, terutama, periode Helenistik berikutnya mengembangkan jamban umum besar. Ini berupa ruangan besar dengan bangku yang terhubung ke sistem drainase. Mereka juga menempatkan jamban di rumah-rumah kelas menengah biasa.

“Masyarakat menjadi lebih makmur, dan mereka lebih banyak layanan dengan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Georgios Antoniou, arsitek Yunani yang mempelajari sanitasi peradaban Yunani Kuno.

Selama zaman Romawi (sekira 200 SM–500 M), kamar mandi umumnya juga menyediakan ruangan dengan banyak tempat duduk berlubang. Terdiri dari bangku-bangku batu panjang, dengan lubang-lubang di atasnya dan jarak yang identik satu sama lain.

Bangku-bangku itu terletak di atas saluran udara yang terus mengalir menuju saluran pembuangan pembuangan. Parit air lain mengalir di sepanjang kaki bangku toilet, yang menurut para peneliti digunakan untuk mencuci spons di tongkat. Tongkat spons ini oleh orang Romawi digunakan laiknya tisu toilet.

“Lubang-lubang toilet itu rapat, sehingga pengguna toilet jauh dari privasi,” jelas Bates. “Teks-teks kuno dari masa itu menegaskan ini, menggambarkan jamban sebagai tempat bersosialisasi.”

Jamban pribadi bisa ditemukan di beberapa rumah tinggal. Namun jamban semacam ini justru tidak higienis. Letaknya biasanya berada dalam atau dekat dengan dapur. Karena fungsi lubang pembuangan ini juga untuk sampah dapur.

Bagi orang Romawi Kuno buang air sangat dilarang. Para peneliti menemukan beberapa coretan yang bertujuan mencegah masyarakat buang air di jalan umum.

Misalnya sebuah prasasti dari Romawi Kuno yang berbunyi: “Dua belas dewa-dewi dan Jupiter, yang terbesar dan terbaik, akan marah kepada siapa pun yang buang air kecil atau besar di sini.” Tulisan yang di Pompeii bahkan lebih blak-blakan: “Jika kamu buang air di tembok dan kami menangkapmu, kamu akan dihukum.”

Jamban Modern Pertama

Jamban siram modern pertama kali dikembangkan pada 1596 oleh putra baptis Ratu Elizabeth I, Sir John Harington. Sebagaimana dijelaskan History, untuk menyiram, jamban Harington membutuhkan 7,5 galon air. Saat kondisi air sulit, seseorang bisa memakai jamban di tengah proses penyiraman.

Harington menerbitkan jamban ciptaannya itu dalam pamflet berjudul “A New Discourse of a Stale Subject, Called the Metamorphosis of Ajax”. “Sebuah pelesetan pada istilah ‘a jakes’, yang merupakan istilah populer untuk jamban,” tulis History.

peralatan Harington telah memasang model jamban bagi Ratu Elizabeth di Istana Richmond, masih butuh beberapa abad dan Revolusi Industri untuk memperbaiki manufaktur dan sistem pembuangan kotoran. Baru pada 1775 penemu Inggris Alexander Cumming diberikan paten pertama untuk jamban siram.

Inovasi Cumming terbesar adalah pipa berbentuk S di bawah jamban. Fungsinya untuk mencegah gas dari selokan naik melalui lubang jamban.

Jamban Kompos

Melansir bbc, pada 1859 pendeta Henry Moule dari Fordington menemukan toilet kompos pertama. Ia mendapati tanah kering yang bercampur kotoran manusia akan menghasilkan kompos bersih hanya dalam beberapa minggu.

Sebagai seorang yang religius, Moule tidak menyetujui sistem jamban yang ada sebelumnya. Menurutnya jamban semacam itu adalah sungai dan laut milik Tuhan. Itu juga merupakan pemborosan nutrisi yang terkandung dalam kotoran. Mestinya nutrisi itu dikembalikan ke tanah.

Pada 1873, Moule pun mengambil paten atas desainnya untuk jamban tanah mekanis. Jamban versinya mendukung kotoran manusia disimpan untuk dikembalikan lagi ke tanah tanpa harus mencium bau.

Tanah kering atau gambut ke dalam tempat penyimpanan di belakang jok. Lalu ember yang bisa dilepas ditempatkan di bawah kursi. Saat tuas ditarik, sedikit tanah akan ditaburkan di atas kotoran manusia untuk mengurangi bau dan membantunya membusuk. Saat ember sudah penuh isinya akan dibawa ke kebun.

Kepiting Jamban

Pada akhir abad ke-19, seorang pebisnis dan tukang ledeng di London bernama Thomas Crapper membuat salah satu saluran toilet siram pertama yang sangat sukses. Crapper, penemu jamban, tapi ia mengembangkan mekanisme pengisian tangki hingga kini masih digunakan sampai sekarang.

Nama Crapper pun identik dengan perangkat yang dia jual. Di antaranya berkat prajurit Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama Perang Dunia I.

"Merk Crapper ada di mana-mana, di Inggris dan Prancis, [prajurit] membawa istilah itu kembali ke rumah mereka setelah perang," tulis History.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama