Apakah Naga Benar-Benar Ada?

Naga tampaknya benar-benar ada. Setidaknya begitulah yang biasa dikatakan orang-orang.

Smaug, naga terakhir di Middle Earth, dalam film The "Hobbit: The Battle of the Five Armies" (2014).

Punggungnya terdiri dari barisan barisan yang rapat. Saking rapatnya, udara bahkan tak bisa melewatinya. Dengusannya mengeluarkan kilatan cahaya. Ia bagai sinar fajar.

Lubang hidungnya mengeluarkan asap, seperti panci mendidih di atas alang-alang yang terbakar. Mulutnya menyemburkan api. Batu bara pun bisa menyala akibat dengusan napasnya.

Makhluk yang dijelaskan dalam Book of Job (Kitab Ayub) itu mirip sekali dengan seekor Naga. Namun di sana disebut dengan Leviathan, semacam monster raksasa yang mengerikan.

Naga, telah ada selamat tahun. Dongeng tentangnya dikenal di banyak budaya. Ia muncul dalam mitologi di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok.

Karenanya, ide dan deskripsi Naga sangat bervariasi. Beberapa Naga digambarkan memiliki sayap, tapi yang lain tidak. Ada Naga yang dikisahkan bisa berbicara dan menyemburkan api, yang lain tidak bisa. Di antaranya hanya beberapa kaki panjangnya, tapi yang lainnya bisa berkururan menjangkau mil. 

Beberapa Naga hidup di istana atau di bawah lautan, sementara yang lain hanya dapat ditemukan di gua dan di dalam pegunungan. Makhluk itu juga bisa diidentikkan sebagai makhluk bermanfaat, baik kejahatan.

Tak jelas kapan kisah Naga pertama kali muncul. Laman Livescience menulis, paling tidak Naga yang paling tua bisa dirunut sampai awal masa Yunani dan Sumeria Kuno.

Kata Dragon dalam bahasa Inggris asalnya dari bahasa Yunani Kuno, draconta artinya "untuk mengawasi". Maksudnya, binatang buas itu biasanya menjaga harta karun, gunungan koin, atau emas. Ini seperti yang digambarkan dalam trilogi film fantasi The Hobbit. Smaug, Naga terakhir di Middle-earth dikisahkan mengambil alih Lonely Mountain (Gunung Sunyi) yang berisikan harta karun Erebor.

Naga diwujudkan sebagai makhluk yang menyeramkan, terutama waktu Kristen menyebar ke dunia. Pada abad pertengahan, kebanyakan orang mendengar kisah Naga dari Alkitab.

Gereja menciptakan Kristen legend tentang orang kudus yang saleh dan menaklukkan setan berbentuk Naga. Yang paling terkenal adalah kisah St. George the Dragon Slayer. Alkisah, St. George datang ke kota yang terancam oleh Naga. Dia lalu menyelamatkan seorang gadis, melindungi dirinya dengan tanda salib, dan membunuh binatang itu. penduduk kota, yang terkesan dengan iman dan keberanian St. George segera menjadi Kristen.

“Kemungkinan besar orang Kristen pada saat itu percaya pada keberadaan Naga secara literal,” tulis laman Livescience.

Tradisi Hindu maupun Buddha juga mengenal Naga sebagai hewan mistis. Menurut John Miksic dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, tradisi Hindu acap menceritakan Naga lewat sastra dan kesenian. kadang-kadang hadirnya dengan rejeki.

"Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis Miksic.

Kata Naga yang dipakai di Indonesia asalnya dari bahasa Sanskerta. Arti harfiahnya. Khususnya di Jawa, Naga Merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, Naga sering melihat udara dan kesuburan.

Di Jawa ada banyak kisah tentang Naga. Yang muncul dalam pahatan di candi biasanya di udara amrta atau kehidupan dalam kisah Samudramanthana.

Di Tiongkok Naga disebut dengan Lóng. Sebagaimana disebut laman Livescience, ia adalah makhluk yang hidup di lautan, danau, sungai, dan bahkan hujan. Mereka dipuja sebagai simbol yang memberi kehidupan dari dan kesuburan, yang mampu melepaskan hujan di musim kemarau.

"Mereka digambarkan sebagai hewan yang punya tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin (makhluk suci dalam legenda Tiongkok, red.)," tulisnya.

Fakta di Balik Legenda Naga

Namun, kepercayaan pada Naga tak hanya berdasarkan legenda. Banyak juga orang dulu yang percaya berdasarkan bukti kuat. Contohnya, selama tahun tak ada yang bisa menjelaskan tentang tulang-tulang raksasa yang ditemukan di seluruh dunia.

Dilansir dari laman Livescience, beberapa abad lalu desas-desus tentang Naga terkonfirmasi keberadaan saksi mata. Para pelaut yang kembali dari Indonesia telah bertemu dengan mereka. Makhluk yang katanya sejenis kadal itu dapat menjadi agresif dan mematikan. Panjangnya sampai 10 kaki. Namun ternyata itu adalah komodo.

“Mirip dengan Naga, sebelumnya diyakini, Komodo sangat mematikan karena bakteri di mulut,” jelas laman itu. “Meskipun mitos itu dibantah pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universitas Queensland.”.

Pada masa lalu, Naga kerap dipakai untuk menyebut hewan tak dikenal. Pada abad ke-16 misalnya, Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho sempat mengunjungi bagian utara Sumatra. Dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan (Xingcha Shenglan), dia menceritakan adanya sebuah pulau yang sering didatangi Naga. Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Naga-Naga yang ke sana meninggalkan liur yang tinggi nilainya di pasaran.

“Pada setiap musim semi beberapa ekor Naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang disebut sebagai Pulau Liur Naga,” catatnya.

Dasar, berdasarkan terjemahan W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, liur Naga itu adalah ambergris. Naga yang dimaksud tak lain merupakan jeda.

Ma Huan juga menyebutkan keberadaan Naga dalam catatannya, Yingya Shenglan dari sekira 1416. Penerjemah resmi yang ikut berlayar bersama Cheng Ho itu menulis, di pesisir Man-la-ga (Melaka) ditemukan kura-kura dan Naga.

Naga itu suka menyerang manusia. Ia memiliki empat kaki. dasar, berdasarkan terjemahan Groeneveldt, Naga yang dimaksud adalah buaya.

“Seluruh tubuhnya ditutup dengan sisik. Sederetan tanduk di punggungnya dengan kepala seperti Naga dan gigi keluar dari mulutnya. Jika bertemu manusia, Naga ini akan memakannya,” tulis Ma Huan.

Naga pada akhirnya mewujud dari gagasan yang mencontoh makhluk nyata. Itu dimulai dari ular atau reptil menakutkan lainnya. “Seiring waktu mereka pun memperoleh bentuk itu sendiri dengan menyerap harapan dan imajinasi masyarakat setempat dengan meminjam sifat-sifat hewan yang nyata,” tulis Livescience.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama